Lurah Hutan Bertuturkan Babad

WmDev_635898355649752414.jpgAkhir pekan lainnya yang masih kuisi dengan warna-warna cat air. Tidak puas dengan coretan pena, aku mencari sebuah rupa gambar yang sederhana. Lavender. Sebuah nama flora yang mengingatakan akan proses pembuatan mumi manusia, dan pewangi pakaian istana raja kuno ketika pemandian belum diutamakan.


WmDev_635898355153932522.jpgLavender tidak bertumbuh banyak oleh biji yang beterbangan, melainkan oleh akar yang ditanam berulang dengan tujuan lain. Aku pernah juga dengar bahwa lavender adalah pembius bagi rasa gugup dan kekhawatiran manusia. Lavender bisa memberikan “kedamaian” pikiran tersendiri ketika kujadikan objek gambar. Sederhana, tapi warna dan gradasinya melayangkan imajinasiku jauh. Meski tidak sebentar, akhirnya aku bisa menyelesaikannya dan melanjutkannya dengan membaca buku tebal berjudul : Centhini.


 

Orang memanggilku Lurah hutan, walau itu tidak tepat, karena aku hanyalah abdinya. Tugasku adalah menjelaskan kepada para penebang, pohon mana yang boleh dirubuhkan dan mana yang bila diambil rantingnya saja akan mendatangkan petaka bagi yang melakukan kesalahan itu serta kepada lingkungannya. Kuberikan nasehat tentang seni memilih jati yang cocok bagi pembuatan rumah atau masjid, musim dan saat yang pas untuk menebangnya. 

Bagi para sastrawan yang sempat menumpang bermalam di gubuk ini, kuingatkan bahwa kata babad, dalam bahasa Jawa kita yang indah, bisa berarti “sastra”dan “membabat hutan”. Sebab bukankah kita merambah alas rimba untuk mendirikan keraton?

Begitu keraton berdiri, lahirlah babad, primbon dan suluk. Si pujangga tahu bahwa tiap bait sajaknya menuntut pengorbanan sebuah pohon. Sebab ia menghitung kata-katanya dan bersujud sebelum menuliskannya satu demi satu. 

(Elizabeth D. Inandiak, 2015:121-122)

“Tapi setelah ketiga pujangga dan beberapa sastrawan ternama lainnya, akan tiba waktunya saat para penyair tidak sujud lagi. Hutan ini dan banyak lainnya akan musnah. Babad tidak lagi dihuni malaikat satra melainkan jin alas roboh.”

(Elizabeth D. Inandiak, 2015:122)

Advertisements

2 thoughts on “Lurah Hutan Bertuturkan Babad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s