Kisah Partadewa di Istana Sorgaloka

Akhir pekan. Aku sedang malas beranjak dari kamarku. Langit-langit kamarku terasa memancarkan panas oleh terik di atas genting. Setengah duduk, mataku mencari-cari kertas gambar. Ia tercecer di bawah karpet lusuhku. Aku menggapainya, kemudian mencoret-coret di atasnya tanpa tujuan pasti.

 

WmDev_635897475517992956.jpg Tidak banyak yang sedang ingin aku bayangkan di kepalaku. Buntu oleh ketertarikanku pada sebuah blok stopkontak listrik kamarku. Dan tidak tahu arah tujuan, coretanku melantur pada bentuk tak jelas. Tapi toh, aku selalu bisa menemukan warna untuk hal-hal tak pasti.


Meninggalkan palet cat air, aku rupanya masih ingin meneruskan coretanku. Tidak banyak berubah tentang apa isi kepalaku. Hanya tangan ini masih ingin mengayuh kuas dan air warna. Aku meneruskan tanpa mencari sebuah gagasan. Hanya melakukan saja apa yang ingin aku lakukan. WmDev_635897478407447482.jpg



Setelah pertama sebelumnya aku berangkat dari blok stop kontak, selanjutnya tadi beralih ke tempat sampah. Aku menutup palet cat airku, kemudian meninggalkannya begitu saja menuju sebuah buku tebal yang belum habis kubaca. Centhini. Bagian yang selalu kubaca berulang sejak pagi tadi adalah cerita yang dikisahkan Partadewa di istananya kepada Drona, sang tamu. Partadewa memanggil anaknya dengan nama Gathutkaca, membuatku bertanya benarkah ia ayah sang termashyur Gatotkaca.

Pada zaman dahulu, di Kerajaan Atas Angin, hiduplah seorang raja bernama Maruta. Buyutnya Kumbayana, menolak menikah. Kata orang, ia lebih suka bertapa ketimbang wanita. Suatu hari dewa mendatanginya dalam kata-kata : ‘He, Kumbayana, pergilah ke Pulau Jawa. Di sana tinggal insan-insan istimewa bernama Pandawa. Barang siapa menyerahkan hidupnya mengabdi pada Pandawa Lima akan mendapat berkah yang sia-sia kamu cari di sini.’

Malang! Di Jawa, Kumbayana tidak mengabdi pada Pandawa tapi pada saudara dan musuhnya, keseratus Kurawa di Hastinapura. Ia melanggar kata-kata dewa, dan inilah kenapa :

Untuk sampai ke pulau Jawa, Kumbayana harus menyeberang laut. Padahal di perairan tidak terlihat perahu maupun kapal, ia berdiri mematung di sana. Kumbayana lalu berdoa kepada dewa agar dibawa hingga tujuan. Permohonannya terkabul, seekor kuda menghampirinya, siap dinaiki. Kumbayana segera menungganginya. Kuda itu mencongklang menyeberangi lautan.

Di tengah lautan, Kumbayana menyadari bahwa kuda yang dinaikinya adalah betina. Nafsu hebat menguasainya sehingga ia lupa diri. Di suatu tempat terpencil, ia berhubungan dengan si kuda hingga hamil. Tidak lama kemudian, lahir seorang bocah elok rupanya, hanya saja kakinya cacat karena ibunya kuda. Anak itu diberi nama Bambang Aswataman. Menurut kabar tersebar, ia adalah anakmu, Drona!

Ki dalang memukul kotak wadah wayang kemudian melanjutkan :

Drona mencabut pisau dan berkata : “Terkutuk kamu Partadewa! Apa kamu ingin merasakan belatiku?”

Tembaga dan bambu gamerlan bergetar, siap menirukan perang :

Drona menyerang tapi terpental, terbang terbawa angin. 

(Elizabeth D. Inandiak, 2015:113-114)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s