Kisah Cebolang kepada Pujangkara

Aku mengunyah nasi goreng yang bercampur ati ayam di mulutku. Karibku meletakkan sendoknya, kemudian berhenti mengunyah makanannya. Air mataku mengucur, aku tetap mengunyah sebisaku. Karibku tak sampai hati bertanya lebih jauh, lantas mengambil secarik tisu dan menjulurkannya padaku.

“Sudahlah, kawan,” ia berucap dengan nada tertahan, “jangan tangisi lagi semua kejadian antara kau dan ayah ibu kau.”

Aku mengusap air mataku dengan tisu yang terasa kasar. Mataku perih.

“Lebih baik, kau belajar memaafkan. Memaafkan diri sendiri, lalu kedua orang tua kau. Supaya bisa kau kuat buat move on.”

“Anakku, kamu sudah terkenal di kalangan di kalangan bangsawan Mataram dan malam ini sang nasib baru saja membawamu ke kediamanku. Katakanlah, kamu bukan anak kota, kan? Apakah kamu anak kiai? Jawablah pertanyaanku dengan hati nurani.”

Dalam hati Cebolang menimbang-nimbang apakah lebih pantas ia jujur atau mungkir. Setelah berpikir masak, ia menyembah dan berkata :

“Nama hamba Cebolang, dan berasal dari Sokayasa. Hamba anak Syekh Akhadiyat dan Siti Wuryan. Hamba tidak memiliki kakak maupun adik. 

Hamba telah melanggar tata krama, hamba menuruti nafsu rendah, pemarah dan tolol, sehingga hati hamba remuk dan bertebaran menjadi debu beterbangan, dan hamba telah kehilangan semua rasa ulung. 

Dengan terus meremehkan nasihat ayah, telah hamba bakar raga hamba di hawa-hawa malam. Hamba mengelana bagai orang malang hingga tersesat ke Negeri Mataram. Tengara yang begitu berbaik hati menampung hamba, mengangkat hamba sebagai saudara kandung dan memperkenalkan hamba kepada kaum bangsawan setempat.”

Juru Pujangkara geleng-geleng kepala dan berkata :

“Itu yang sering dilakukan anak-anak muda, tapi Allah menutup tangan dan membukanya lagi bagi yang Ia kehendaki, takdir tidak dapat ditebak. Terkadang di awalnya ulung dan di akhirnya hina, terkadang semula kasar kemudian meningkat berjiwa mulia. Jadi, kenakalanmu jangan terlalu diutamakan. Allah lebih berkuasa.”

(Elizabeth D Inandiak menulis Suluk Tembangraras, 2015:95)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s