Membaca Centhini

Centhini, bukanlah buku yang akan kaudongengkan untuk anak-anak agar enggan berlaku salah. Centhini, juga bukan buku yang kau gelar di atas permadani lalu kau khatamkan sebagai kitab. Centhini, adalah untuk jiwa pengembara, yang mencari-cari pujangga dalam dirinya. Centhini, lebih dari sekedar menebus kecintaan pada pohon-pohon yang ditebang demi tembang-tembangnya.

Buku Centhini, bukanlah buku agama, bukan pula cerita seks perwayangan. Buku ini adalah paduan kebatinan dan kebatilan. Perjalanan batin yang mencari tuhannya. Sekaligus hal batil yang bersyahwat dalam mabuknya. Buku ini adalah pengembaraan pangeran yang ditembangkan. Dalam bahasa Jawa yang paling gaib sekalipun.

Pengembaraan tidak membawamu pada ujung yang bahagia atau duka. Ia adalah perjalanan tiada tepi. Ia adalah ruang lintas yang lebih dari sekedar tiga dimensi.

Pengembaraan bisa jadi membimbing kepada kearifan. Pengembaraan bisa jadi adalah pertemuan dengan pengembara lain yang sedang dalam kekacauan : pedagang keliling, para penembang, penggamel, ledek, banci, sastrawan sufi, pelacur Buddha-Siwa, pandai besi, dukun, guru kanuragan, kecu, segala orang bebas, pelarian atau para paria yang -di luar kekuasaan- menenun serta mengutak-utik jaring khayal syahwat dan roh tanah Jawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s