Cemara Chairil Anwar

Tercatat dalam sejarah kita bahwa Chairil Anwar pernah sakit amat parah hingga ia menjadi sedih. Begitu sakitnya, ia seolah mencoba berpuisi untuk memisahkan diri dari kondisi lampau. Dalam kata-kata yang menyiratkan raut wajah mengiba, ia mengendus kematian dengan sederhana. Tapi jejaknya, akan kita temukan dalam tulisan-tulisan pemuja tak dikenal.

Semoga tak mengapa jika aku yang tak dikenalmu ini, mengulang setiap kata Chairil Anwar dalam kesedihannya di Derai Derai Cemara.


Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan ditingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Kau dengar ia menderai, menyuarakan kejatuhannya yang tiada daya ibarat gugurnya daun-daun muda. Kau dengar pula ia meraba malam, kala sinar mulai tenggelam berganti pekat kelam menaungi kesedihannya. Lalu kau menoleh ketika ia ucapkan merapuh, seperti tak mau lagi menyembunyikan kelemahannya dalam sakit. Dan beratnya pukulan yang harus ia redam bersama angin dari pohon.


Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada satu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini


Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s