Sajakku setelah Tere Liye

Kilauan senja menyeruak halus ke dinding kamarku, menyesak masuk di sela-sela tempelan kertas-kertas di sana. Di setiap kertas-kertas kecil itu, tertulis semua isi kepalaku dalam penggal-penggal sajak. Kemunculan sajak itu membuncah karena satu nama yang tulisannya bertubi-tubi kubaca. Ia, Tere Liye.

“Apalah hebatnya penulis itu? Ia hanya menjiplak dan meniru cerita orang lain!”

Begitulah lisan nyaring yang meneriakiku dari mulut-mulut cerdas tamat sekolah tinggi. Benar, tidak salah.

Aku tidak bisa menyetujui lisan itu secara seluruh. Bagaimana bisa, jika setiap membaca tulisannya justru aku semakin gila merangkai sajak-sajak. Bagi orang yang rindu anak-anak hidup dalam dirinya, tulisan Tere Liye adalah gula-gula candu. Mengapa mulut-mulut sekolahan memilih terlalu cepat dewasa?

Masa lalu selamanya tidak akan pernah menang, karena ia
selalu ada di belakang.

-Tere Liye

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s