Dua Belas Hari

Enam puluh tujuh hari, waktu yang diperlukan Marshall untuk bisa memulihkan diri dari patah hati ditinggal mantannya. Setidaknya begitulah skenario sutradara sebuah serial televisi New York, How I met Your Mother.

Sedangkan buatku, perlu delapan puluh tiga hari untuk bisa memaafkan dan memulai keberanian baru di luar bayang-bayang si pemuda beruang. Tidak tahu apa alasannya.

Enam hari pertama, badan ini seperti zombie yang memiliki kewajiban karir. Hanya berjalan ibarat konstannya detak jarum detik, berlari mengejar bus kota seperti gelindingan bola sepak, dan melapor ke ruangan atasan seperti radio dua puluh empat jam. Sibuk, mutlak, tanpa ketegangan apapun.

Dua belas hari berikutnya terasa sangat mustahil awalnya untuk dijalani. Badanku sehat, tapi gerakanku seperti orang sakit-sakitan. Kerap kali kutemukan diriku sendiri sedang meringkuk di mana saja. Di lantai kamar, di atas toilet, di lantai depan kulkas, di bawah meja makan, paling sering di bawah tempat tidur. Seperti tanpa kewarasan, memilih tempat aneh tapi tak juga bisa menghilang.

Saking inginnya bisa merasa, kadang terpikir untuk mencoba merokok. Sekedar untuk tahu apa rasanya sesak nafas dan tercekik. Kadang terpikir untuk mencandu narkotik. Sekedar untuk tahu apa pula rasanya disuntik jarum panas dengan racun membakar. Tidak kulakukan pun bukan karena bisikan moral, melainkan hanya karena terlalu malas dan lemas untuk berusaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s