Buku di Jembatan Jakarta

Area Plaza Semanggi Jakarta, 2010

Jakarta kali itu tidak berbeda dari seribu hari lain sebelumnya. Sumuk. Gerah. Menjemukan. Jembatan penyeberangan ini seperti ogah diinjak-injak jutaan manusia. Di seribu hari lain, ia lusuh oleh korosi, busuk oleh lubang-lubang air, dan teracuhkan oleh arus manusia.

Tetap saja, iba dan cekat makin terasa ketika mendekati ujung tikungannya. Seorang perempuan recehan. Entah apa yang dijadikannya alas untuk duduk di atas beton panas. Dan bagaimana pula ia terbiasa membaui pesing air kencing di dekatnya. Mengantuk. Tak perduli. Aku cuma bisa sibuk terbawa arus manusia yang berkejaran meninggalkan pojokan ini.

Aku memusatkan mataku pada sampul buku abal-abal bagian belakang. Di balik bungkus plastik kusam, mataku mengeja.

Mungil, pengkhayal, dan berantakan. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng indah.

Dengan setrum diri bertemankan bau air seni dan keringat ketiak manusia-manusia di belakangku, aku membalik lagi sampul judul buku abal-abal tadi.

Perahu Kertas

Judul yang dangkal, sampul yang remaja. Anehnya penasaran yang muncul, justru sama besarnya dengan ketidaktertarikanku dengan ilustrasinya yang kentara pabrikan. Kupikir, “Better worst than nothing, right?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s