Jenggala adalah Hutan

jenggala 20160108 04

Aku ingat pernah dengan kasarnya memilih sebuah buku cerita kecil hanya karena warna dan gambar sampul bukunya yang serupa lukisan Van Gogh. Gambar itu adalah dua lukisan aneh di kedua sampul buku depan dan belakang. Buku itu begitu kecil, tapi terasa istimewa karena warna sampulnya yang abstrak dan kuat oleh warna merah, jingga dan biru.

Buku itu kini ibarat harta karunku yang telah berusia lima tahun bumi. Tidak pernah jauh dari pandanganku, ia selalu jadi buku kecil yang menyelamatkan hari-hari terberatku. Jatuh sakit, putus asa, dan frustasiku selalu mengembalikanku pada buku kecil itu. Dan aku kerap resah ingin membaca dan merekam jelas setiap kata-kata didalamnya berulang-ulang.

Aku pergi ke hutan karena aku ingin hidup bijaksana, menghadapi fakta kehidupan yang penting saja. Dan karena ingin kucoba belajar dari hutan itu, agar jangan sampai bila ajalku tiba nanti, baru aku sadar bahwa aku belum pernah hidup.

Thoreau

Hutan. Hidup. Dan bijaksana.

Aku tahu pasti, Jenggala adalah nama yang tepat. Ia memiliki banyak makna yang seluruhnya meyiratkan kebahagiaan secara sahaja. Jenggala kadang disandingkan dengan panjalu. Tapi aku putuskan untuk menyandingkannya dengan aksara. Karena aksara adalah penghubung terkuatku. Akar yang paling rasional untuk dipancangkan dalam alam yang kelam pekat. Dan Jenggala, adalah namaku untuk aksara planet maya ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s